Senin, 09 September 2013
0 komentar

Bangganya, Gitar Indonesia Terbaik di Dunia



 





SIAPA sangka gitar produksi Sidoarjo, Jawa Timur, dinobatkan sebagai gitar terbaik 
dunia versi majalah terbitan Inggris, Guitar Planet, edisi akhir tahun 2012. Semua itu tak 
lepas dari tangan dingin Mr D, musisi dan produsen gitar tersebut. Siapa dia?

D adalah huruf  awal namanya, Doddy Hernanto. Dia merupakan salah seorang owner yang 
menjadi roh perusahaan gitar bermerek Rick Hanes yang didirikan pada 2009. ’’Julukan
 Mr D sebenarnya hanya diucapkan oleh rekan-rekan saya satu band dulu. Tapi karena 
simpel dan mudah dihafal, sekarang hampir semua orang mengenal saya bukan dengan 
nama Doddy, tapi Mr D,” kata pria 52 tahun itu ketika ditemui media ini di kantornya, pekan lalu.

Saat itu Doddy tengah asyik mencoba dan memainkan gitar Rick Hanes seri D’squirrel 
berwarna putih. Itu adalah seri khusus yang dikeluarkan pabrik gitar tersebut untuk dirinya.

Berbeda dengan jenis gitar elektrik lainnya, gitar Rick Hanes tidak menggunakan efek
 untuk menghasilkan distorsi nada. Tetapi gitar itu menggunakan gadget untuk 
menghasilkan suara istimewa. Kebanyakan gadget keluaran Apple. Inovasi itulah
 yang akhirnya mengantarkan gitar Sidoarjo tersebut mendapat tempat terhormat dalam panggung musik dunia.

Dalam event pemilihan Guitar of the World 2012 yang diadakan majalah Guitar 
Planet, Inggris, gitar  Rick Hanes menyabet tiga gelar sekaligus. Yakni juara 
pertama diraih Rick Hanes tipe Chris Bickley DR Pro, juara kedua Rick Hanes
 tipe Avenix, dan juara ketiga direbut Rick Hanes tipe DR Medium.

Tidak hanya itu, penghargaan Artist Signature Guitar of  The Year 2012 juga diraih 
gitar Rick Hanes tipe Chris Bickley DR Pro. ’’Terus terang, saat diberi informasi in
by email minggu lalu oleh pihak Guitar Planet saya kaget bukan kepalang. 
Saking senangnya, mau pingsan rasanya,” kata Doddy.

Pria yang menguasai delapan alat musik itu mengatakan, kontes desain gitar 
tersebut diadakan setahun sekali. Untuk edisi 2012 terdapat 362 peserta dari
 seluruh dunia dengan berbagai brand. Di antaranya, gitar-gitar
bermerek top seperti Ibanez, Gibson, Fender, Yamaha, Ovation, dan Hofner.
 Doddy mengajukan tiga seri Rick Hanes untuk mengikuti kontes ini.

Penilaiannya menggunakan voting di situs milik majalah tersebut. 
’’Yang membuat kami bangga, tiga seri gitar kami ternyata mendapat
 suara terbanyak. Gitar-gitar itu dinyatakan sebagai pemenang satu 
hingga tiga,’’ jelas Mr D dengan wajah berseri-seri.

Doddy merintis usaha gitar sejak 2009. Awalnya, dia membentuk band 
bersama adik iparnya, Tommy Kaihatu, yang juga kolektor gitar. Mereka 

lalu memutuskan untuk memproduksi sendiri alat musik berdawai itu. 
Tidak mau sembarangan, Doddy yang sebelumnya berprofesi sebagai 
guru matematika SMA tersebut melakukan riset langsung ke Amerika Serikat dan Eropa.

’’Saya memilih Amerika dan Eropa karena di sanalah kiblat musik dunia. 
Hampir seluruh pabrikan gitar tersohor berasal dari sana,” kata ayah empat anak tersebut.

Riset berlangsung selama tiga tahun. Dia merasa banyak mendapatkan 
pelajaran berharga dari studinya itu. Mulai bahan baku sampai pemilihan 
nama merek. Juga proses pembuatannya yang detail dan ’’sempurna’’.

Misalnya, agar kuat dan tahan lama, Doddy mengaplikasikan carbon graphite 
pada bagian leher gitar. Jenis karbon ini merupakan bahan pembuat 
pesawat ulang-alik NASA (badan antariksa Amerika Serikat).

’’Bahan jenis ini terkenal kuat namun sangat ringan,” kata pria yang dikenal 
piawai bermain gitar satu jari tersebut.

Begitu pula soal nama merek, Doddy mengikuti anjuran para produsen gitar 
di Amerika dan Eropa. Yakni nama yang berbau internasional agar mampu 
menembus pasar global. Menurut pria kelahiran Mojokerto 24 November 1963 
itu, dunia musik sangat kental dengan SARA (suku, agama, ras).

’’Bukannya kami tidak cinta dan bangga dengan Indonesia. Namun, kalau
 pakai nama Slamet, misalnya, gitar kami tidak akan laku di pasar Amerika,” katanya lantas tertawa.

Setelah riset dirasa cukup, Doddy merumuskan kembali konsep gitar
 idamannya bersama sang adik, Tomy. Dari situ tercetuslah nama 
brand produk kebanggaan mereka, yakni Rick Hanes. Nama tersebut berasal dari singkatan nama anak tunggal Tomy, Patrick Yohanes.

’’Ini tidak sekadar nama, tetapi juga wujud dari kecintaan kami terhadap regenerasi gitar untuk kaum muda,” tutur dia.

Untuk menjaga kualitas, kata Doddy yang hingga kini tetap berprofesi sebagai guru musik di SMA YPPI Surabaya, pabrik gitar biasanya menerapkan tiga hal penting dalam produknya. Yakni, play abilitysound character, dan estetika.

’’Namun bagi kami itu belum cukup. Makanya, kami menambahkan dua unsur yang tidak kalah penting. Yaitudurability dan strength,” ujarnya.

Begitu juga dalam teknologi, mereka ingin menjadi pionir sebagai produsen gitar canggih. Makanya, Doddy selalu memberikan space dalam produknya untuk dihubungkan dengan teknologi terkini. Yang terbaru, mereka bekerja sama dengan Seymour Duncan, perusahaan pembuat teknologi gitar dan efek ternama asal Amerika Serikat.

Teknologi itu sudah dirasakan banyak gitaris andal Indonesia. Di antaranya dewa gitar Indonesia, I Wayan Balawan, Taras Bistara (gitaris TRIAD), Aji “Broken Bone”, Donny Suhendra, dan Irul “Five Minute”.

’’Yang cukup membanggakan, pabrik kami sempat dikunjungi dan dipuji Buddy Blaze, perancang gitar Jimmy Page dari Led Zeppelin,” ujarnya.

Dengan adanya penghargaan ini, Doddy berharap masyarakat Indonesia lebih mencintai produk negerinya sendiri. Karena belum tentu produk dari negara maju lebih hebat ketimbang karya anak bangsa.

”Dan semoga juga anak-anak bangsa yang kreatif lainnya mampu membuat sesuatu yang hebat. Sehingga mampu membuat negara ini dikenal dengan berbagai hal positifnya,” pungkasnya. (*/jpnn/che/k1)
 


0 komentar:

Poskan Komentar

 
Toggle Footer
Top